PERKEMBANGAN KOGNITIF BAYI

Seringkali kita berpikir, apakah IQ saat bayi akan sama pada saat anak berumur 11 tahun? Jawabannya belum pasti. Beberapa orang tuapun mulai mempertanyakan apakah bayi mereka memiliki otak sekaliber Einstein. Namun, akses atau alat untuk mengetahui hal tersebut sangat sedikit dan terbatas. Sebenarnya pada bayi, kita belum bisa mengukur IQnya, karena untuk mengukur IQ, patokannya adalah kemampuan verbal, logis, dan persamaan, dan bayi belum mampu untuk menggunakan patokan itu. Lalu bagaimana caranya untuk mengukur kemampuan inteligensi pada bayi? Seperti yang dijelaskan di atas tadi, kita tidak bisa menggunakan tes IQ, tapi kita dapat melihat perkembangan kognitifnya melalui perkembangan sang bayi itu sendiri yang berpatokan pada kemampuan motorik dan kemampuan persepsinya.  


Selain itu  sangatlah penting untuk mengetahui perkembangan kognitif pada bayi, apakah bayi itu berkembang dengan tingkat perkembangan yang lambat, normal, atau cepat. Kalau ada bayi yang berkembang dengan tingkat perkembangan yang lambat, maka beberapa bentuk pengayaan penting untuk dilakukan. Sebaliknya jika ada seorang bayi yang memiliki tahapan perkembangan yang lebih maju, orang tua dapat dinasehati untuk memberi mainan yang lebih “sulit” untuk merangsang pertumbuhan kognitif mereka. Perbedaan-perbedaan tingkat perkembangan dalam perkembangan kognitif bayi tersebut telah dipelajari melalui penggunaan skala perkembangan atau tes inteligensi bayi.
Berikut adalah beberapa teori terkait perkembangan kognitif bayi: 


Teori Piaget


Piaget yakin bahwa seorang anak melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga masa dewasa. Sejalan dengan tahapan perkembangan kognisinya, kegiatan bermain mengalami perubahan dari tahap sensori-motor, bermain khayal sampai kepada bermain social yang disertai aturan permainan. Dalam teori Piaget, bermain bukan saja mencerminkan tahap perkembangan kognisi anak, tetapi juga memberikan sumbangan terhadap perkembangan kognisi itu sendiri. Menurut Piaget, dalam proses belajar perlu adaptasi dan adaptasi membutuhkan keseimbangan antara dua proses yang saling menunjang yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penggabungan informasi baru yang ditemui dalam realitas dengan struktur kognisi seseorang. Dalam proses ini bisa terjadi distorsi, modifikasi atau “pembelokan” realitas untuk disesuaikan dengan struktur kognisi yang dimiliki anak. Akomodasi adalah mengubah struktur kognisi seseorang untuk disesuaikan, diselaraskan dengan atau meniru apa yang diamati dalam realitas.


Menurut Piaget, perkembangan pemikiran dibagi ke dalam empat tahap yang secara kualitatif sangat berbeda: sensoris-motorik, praoperasional, operasional konkret, dan operasional formal. Yang menjadi perhatian di sini ialah pada tahap yang menandai pemikiran bayi, tahap sensoris-motorik.


Tahap Perkembangan Sensoris-Motorik (± ¾ bulan – ½ tahun)
Pada permulaan tahap sensoris-motoris, bayi memiliki lebih dari sekedar refleks yang digunakannya untuk bekerja. Tidak seperti tahap-tahap lain, tahap sensoris-motorik dibagi lagi ke dalam enam subtahap, yang masing-masing meliputi perubahan-perubahan kualitatif tahapan organisasi sensoris-motorik. Istilah skema (scheme atau schema) mengacu kepada unit (atau unit-unit) dasar atas suatu pola pemfungsian sensoris-motorik yang terorganisasi.


Di dalam suatu tahap tertentu, mungkin ada skema yang berbeda, mengisap, mencari, dan mengejapkan mata pada subtahap satu, misalnya. Pada subtahap satu, skema pada dasarnya bersifat refleksif. Dari subtahap ke subtahap, skema yang terbentuk berubah. Perubahan inilah yang menjadi inti tahapan-tahapan Piaget. Keenam subtahap perkembangan sensoris-motorik adalah:


Refleks sederhana (simple reflexes) ialah subtahap sensoris-motorik pertama Piaget, yang terjadi pada bulan pertama setelah kelahiran. Pada subtahap ini, alat dasar koordinasi sensasi dan aksi ialah melalui perilaku refleksif, seperti mencari dan mengisap, yang dimiliki bayi sejak kelahiran.


Kebiasaan-kebiasaan pertama dan reaksi sirkuler primer (first habits and primary circular reactions) ialah subtahap sensoris-motorik kedua Piaget, yang berkembang antara usia 1 dan 4 bulan. Pada subtahap ini, bayi belajar mengkoordinasikan sensasi dan tipe skema atau struktur, yaitu, kebiasaan-kebiasaan dan reaksi-reaksi sirkuler primer.


Reaksi sirkuler primer (primary circular reactions) ialah suatu skema yang didasarkan pada usaha bayi untuk mereproduksi suatu peritiwa yang menarik atau menyenangkan yang pada mulanya terjadi suatu kebetulan.


Reaksi sirkuler sekunder (secondary circular reactions) ialah subtahap sensoris-motorik ketiga Piaget, yang berkembang antara usia 4 dan 8 bulan. Pada subtahap ini, bayi semakin berorientasi atau berfokus pada benda di dunia, yang bergerak di dalam keasyikan dengan diri sendiri dalam interaksi sensoris-motorik.


Koordinasi reaksi sirkuler sekunder (coordination of secondary circular reactions) subtahap sensoris-motorik keempat Piaget, yang berkembang antara usia 8 dan 12 bulan. Pada subtahap ini, beberapa perubahan yang signifikan berlangsung yang meliputi koordinasi skema dan kesengajaan.


Reaksi sirkuler tersier, kesenangan atas sesuatu yang baru, dan keingintahuan (tertiary circular reactions, novelty, and curiosity) ialah subtahap sensoris-motorik kelima Piaget, yang berkembang antara usia 12 dan 18 bulan. Pada subtahap ini, bayi semakin tergugah minatnya oleh berbagai hal yang ada pada benda-benda itu dan oleh banyaknya hal yang dapat mereka lakukan pada benda-benda itu. 


Internalisasi skema (internalization of schemes) ialah subtahap sensoris-motorik keenam Piaget, yang berkembang antara usia 18 dan 24 bulan.  Pada subtahap ini fungsi mental bayi berubah dari suatu taraf sensoris-motorik murni menjadi suatu taraf simbolis, dan bayi mulai mengembangkan kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol primitif.  


Teori Bayley


Skala Perkembangan Bayi Bayley (Bayley Scales of Infant Development), yang dikembangkan oleh Nancy Bayley (1969), digunakan secara luas dalam pengukuran perkembangan bayi. Versi terbaru memiliki tiga komponen: skala mental, skala motorik, dan profil perilaku bayi. Versi awal skala Bayley ini hanya meliput tahun pertama perkembangan; pada tahun 1950-an, skala ini diperluas untuk mengukur bayi-bayi yang lebih tua. Pada tahun 1993, skala Bayley II dipublikasikan dengan diperbaharuinya norma-norma pengukuran diagnostik (norms for diagnostic assessment) pada usia yang lebih muda. Karena diskusi kita berpusat pada perkembangan kognitif bayi, minat utama kita ialah pada skala mental Bayley, yang meliputi pengukuran sebagai berikut:
    • Perhatian pendengaran dan penglihatan terhadap rangsangan yang diberikan
    • Manipulasi, seperti mengkombinasikan benda-benda atau menggoyang-goyangkan suatu mainan yang dapat menghasilkan bunyi
    • Interaksi dengan penguji, seperti ketika bayi mulai mengoceh dan menirukan mimik wajah
    • Interaksi dengan mainan, seperti memukul-mukulkan sendok bersama-sama
    • Memori yang digunakan atas keberadaan sebuah benda, seperti ketika bayi menemukan suatu mainan yang disembunyikan
    • Perilaku yang diarahkan kepada tujuan yang melibatkan ketekunan, seperti menempatkan pasak di atas suatu bidang
    • Kemampuan mengikuti perintah dan pengetahuan tentang nama dan jumlah benda-benda, seperti memahami konsep bilangan “satu”



DAFTAR PUSTAKA

Santrock, John W. 1995. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup. Edisi 5. Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Tedjasaputra, Mayke S. 2005. Bermain, Mainan, dan Permainan. Cetakan ketiga. Jakarta: PT Grasindo.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar

Forum Chat